Jumat, 10 Maret 2017

HEBOH ISYU TERBARU PUTRA KIM JONG NAM

https://plus.google.com/+tyazayu/posts/XuUQiZWHG5L?_utm_source=1-2-2

LOMPLAI SEBAGAI PELESTARIAN BUDAYA DAYAK WEHEA

Sobat mengikuti proses pengambilan buah Guaqpis seru juga yea. Kami melewati sungai Wehea yang berarus deras dan lebar.Saya bersama rekan Bambang kontributor http://radiomuarawahau.com kami sekaligus beliau sebagai nara sumber pemberitaan untuk seksi Budaya pariwisata untuk Desa Nehas Liah Bing.Dimana kita ketahui Desa ini setiap Awal Maret sampai april,disesuaikan dengan perhitungan penanggalan adat istiadat Dayak suku wehea.Yang diperhitungkan oleh sesepuh para ketua adat Wehea. Setelah ada kesepakatan maka acara pun bisa dilaksanakan. Buah guaqpis ini adalah acara awal prosesi sakral yang diikuti oleh warga Nehas Liah bing.Tentu saja dipandu oleh  kepala adat dan ketua kampung atau kepala desa. Yang kebetulan pak LungMad. Menjadi kepala desa yang baru saja terpilih. Mengikuti semua prosesi acara. Warga Nehas Liah Bing yang ramah dan penuh kepedulian mencerminkan betapa desa ini layak menjadi Desa Budaya.

Laq Pesyai, menjadi pembuka dan awal kemeriahan prosesi pesta panen Lom Plai selama 1,5 bulan. Suku Dayak Wehea, senantiasa menyambut pesta panen ini dengan acara yang ramai dan menghibur bagi wisatawan yang datang pada akhir Februari.
Laq Pesyai menjadi ritual pembuka bagi kesuluruhan prosesi Lom Plai yang dilaksanakan oleh Suku Dayak Wehea. Ritual ini dilaksanakan setelah ritual paluhan gong pertama yang dilakukan sehari sebelumnya. Suku Dayak Wehea sendiri mendiami enam desa di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, terutama Desa Nehes Liah Bing, Kalimantan Timur.
Setelah berakhirnya masa panen yang biasanya jatuh pada medio atau akhir Februari setiap tahunnya, masyarakat Suku Dayak Wehea segera memasuki berbagai ritual penuh makna yang terangkum dalam prosesi adat Lom Plai. Prosesi adat ini memang berlangsung selama waktu yang cukup panjang sekitar 1,5 bulan.
Prosesi adat Lom Plai merupakan alur dari semua pesta panen yang dilaksanakan oleh Suku Dayak Wehea. Ritual adat ini merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ledjie Taq, kepala adat Desa Nehas Liah Bing berpandangan, bahwa apabila satu ritiual adat terputus maka akan menghilangkan satu makna dari Lom Plai itu sendiri.
Sementara itu, kepala adat Desa Dea Beq, Tleang Lung juga berpendapat serupa. Ada beberapa desa yang saat ini tidak menjalankan ritual yang lengkap lagi karena beberapa kondisi dari masa lalu, misalnya pindah kampung atau ada sesuatu hal yang sangat besar terjadi, tanpa diungkapkan apa maksudnya.
Pada pagi hari saat Laq Pesyai, seluruh masyarakat menggunakan perahu dan mulai turun ke sungai untuk menuju bagian hulu Sungai Wehea, sekitar 4-5 rantau (tanjung). Lokasi upacara juga tidak bisa sembarangan, biasanya lokasi itu ditetapkan sehari sebelumnya tepatnya sore hari setelah paluhan gong pertama di pagi hari.
Kaum laki-laki berangkat terlebih dahulu untuk mencari lokasi yang telah ditentukan. Kemudian mereka bergotong-royong saat membersihkan tempat, sekaligus juga mendirikan jengeah (pondok) sebagai tempat istirahat dan makan bersama. Selanjutnya, mereka juga menyiapkan tempat untuk membakar pluq (lemang).
Rombongan kedua biasanya diikuti oleh kaum perempauan dan laki-laki yang membawa perlengkapan masak beserta bahan-bahan untuk pesta satu kampung tersebut. Keriuhan suasana akan langsung tertangkap ketika kita tiba di lokasi acara. Pembagian tugas berjalan alami tanpa adanya komando. Siapa yang mencari kayu bakar, siapa yang mencuci beras ketan, menyiapkan lauk dan sambal psooh (sambal khas Wehea yang sangat lezat), siapa yang mencari bambu untuk tempat gantungan pengsut (hiasan dari rautan kayu), siapa yang mencari rotan dan pesyai, dan masih banyak tugas lainnya, terorganisir dnegn sangat baik. Tanpa perlu koordinasi, seluruh warga berusaha mengambil dan memainkan perannya masing-masing.
Suasana semakin ramai menjelang siang. Anak-anak sekolah langsung bergabung ketika usai sekolah. Belum lagi para tamu dari luar kampung yang berdatangan untuk meramaikan suasana. Terlihat juga, para lelaki bergotong-royong merangkaikan rakit (pekhet heluq) di tepi sungai sebagai sarana untuk kembali ke kampung pada sore hari. Luar biasa dan sangat menarik melihat peran dari masing-masing warga.
Ketika waktu makan siang tiba, semua orang akan berkumpul diatas jengeah untuk menikmati santapan secara bersama. Pluq dibuka, lauk dibagikan, bungkusan nasi dalam daun pisang juga tidak ketinggalan. Semuanya menyantap hidangan dengan penuh kebersamaan. Bersama dalam berbagi, bersama dalam keceriaan, bersama karena bahagia bahwa panen telah selesai dan berhasil.
Kesibukan lebih besar akan mulai tampak ketika selesainya makan siang. Teriakan-teriakan khas Wehea semakin sering terdengar. Berbagai perlengkapan memasak langsung disimpun untuk dibawa pulang menggunakan perahu. Tidak boleh ada yang tertinggal, termasuk anak-anak kecil yang belum bisa berenang dan para orang tua laki-laki dan perempuan.
Pekhet Heluq
Kini tiba waktunya untuk mengarungi Sungai Wehea menggunakan rakit. Semua perahu disekitar tempat upacara segera dikosongkan alias bersih dan dibawa kembali ke Kampung demikian sekilas tentang kegiatan lomplai.Kiriman Beang Abu.
Buah guaqpis atau petete.
Suasana ramai pawai rakit pembawa buah guaqpis.diarak diatas rakit melalui sungai wehea

IKLAN

TRAVEL MITRA NIAGA MUARA WAHAU

SEDANG DI PUTAR SAAT INI